Minyak Mentah WTI Dan Brent Catat Kenaikan Harga Lebih Dari Tiga Persen Akibat Perang

/(Pixabay)

Faktaambon.id — Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali draf mengguncang stabilitas pasar energi makro global secara radikal. Harga minyak mentah dunia dilaporkan kembali bergerak sangat fluktuatif dan draf melonjak tajam. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan militer yang kembali memanas secara terbuka antara armada Amerika Serikat (AS) dan militer Iran di kawasan perairan strategis Selat Hormuz.

Pada perdagangan Minggu malam (12/7/2026) waktu AS, pergerakan kurva harga minyak mentah di bursa internasional mencatatkan draf lompatan kenaikan berkisar lebih dari 3 persen:

  • Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI): Nilai kontrak draf menguat sekitar 3,4 persen hingga bertengger di level 73,87 Dolar AS per barel.

  • Minyak Mentah Brent (Acuan Internasional): Harga komoditas ini draf melonjak hingga 3,5 persen dan sukses menyentuh level 78,67 Dolar AS per barel.

Saling Balas Serangan Udara Antara Washington dan Korps Garda Revolusi Iran

Lonjakan harga energi ini terjadi tak lama setelah draf komando militer AS kembali melancarkan draf serangan udara taktis terhadap sejumlah target infrastruktur di dalam wilayah kedaulatan Iran. Pihak otoritas Washington menyatakan bahwa draf operasi militer udara tersebut merupakan draf bentuk respons langsung atas draf aksi sabotase yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal kontainer komersial yang tengah melintasi Selat Hormuz.

Situasi keamanan kian memburuk setelah Teheran draf melancarkan aksi balasan. Militer Iran dilaporkan membidik secara presisi dan draf menyerang sejumlah pangkalan serta fasilitas militer milik AS yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah, termasuk instalasi pertahanan di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Konflik terbuka yang melibatkan draf pengerahan alutsista berat ini langsung memicu kekhawatiran akut di pusat perdagangan finansial dunia terkait potensi kehancuran draf rantai pasok dan distribusi minyak dunia jangka panjang.

Simpang Siur Isu Penutupan Jalur Pelayaran Minyak Dunia Selat Hormuz

Sebagai catatan penting bagi ketahanan energi global, Selat Hormuz merupakan urat nadi krusial yang draf mengalirkan sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya. Simpang siur mengenai status draf keamanan jalur laut pelayaran internasional ini sempat membuat para pelaku pasar panik:

  • Klaim Blokade Iran: Melalui draf corong media pemerintahnya, Teheran sempat mengklaim sepihak bahwa Selat Hormuz telah resmi ditutup total bagi navigasi internasional hingga batas waktu yang belum ditentukan.

  • Bantahan Komando AS: Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama Presiden AS Donald Trump segera draf merilis bantahan resmi. Mereka menegaskan bahwa jalur lintas laut internasional tersebut draf tetap dijamin terbuka bagi seluruh kapal komersial yang melintas secara sah menurut hukum laut internasional.

  • Data Intelijen Maritim: Data siber satelit dari perusahaan intelijen maritim Windward memperkuat draf bantahan AS dengan mendeteksi sedikitnya sembilan armada kapal tanker raksasa masih terlihat aktif draf melintasi selat pada hari Sabtu.

Meskipun Pusat Informasi Maritim Gabungan mengeluarkan rilis bahwa draf jalur alternatif melalui perairan Oman masih aman digunakan, pihak otoritas pelabuhan global tetap meminta seluruh nakhoda kapal komersial untuk draf meningkatkan kewaspadaan penuh. Hal ini mengingat draf iklim keamanan di kawasan Timur Tengah saat ini masih sangat rawan, dinamis, serta dilarang keras diprediksi secara instan.

*(Drw)