Sinyal Waspada Ekonomi Domestik, Nilai Tukar Rupiah Terus Tertekan Dolar AS

Kemenkop, Seruni, Mama-Mama Tenun, Koperasi NTT, LPDB, Kopdes Merah Putih
Kekuatan Ekonomi/(ilustrasi/@pixabay)

Faktaambon.id – Sentimen negatif menghantui pasar keuangan Indonesia di akhir pekan ini. Pada pembukaan perdagangan Jumat (27/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung merosot 0,39 persen ke level 7.136,37. Kondisi ini mencerminkan kecemasan investor terhadap situasi ekonomi global yang kian tidak menentu, sehingga memicu aksi jual masif.

Hanya dalam waktu singkat setelah pasar dibuka, tepatnya pukul 09.40 WIB, IHSG melorot lebih dalam hingga 0,80 persen ke posisi 7.106. Data bursa menunjukkan sebanyak 139 saham bergerak melemah, sementara kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp12.584 triliun di tengah ketidakpastian pasar modal domestik.

Aksi Jual Dominasi Lantai Bursa

Transaksi di lantai bursa terpantau cukup aktif namun didominasi oleh pergerakan keluar (outflow). Hal ini menandakan sikap wait and see dari para pelaku pasar modal yang cenderung mengamankan aset di tengah volatilitas tinggi. Investor global dilaporkan masih mencermati berbagai kebijakan moneter mancanegara yang berdampak langsung pada indeks saham tanah air.

“Penurunan ini dipicu oleh kepanikan pasar terhadap data ekonomi luar negeri yang meleset dari ekspektasi. Tekanan pada kapitalisasi pasar sangat terasa sejak menit-menit awal perdagangan,” ungkap salah satu analis pasar modal.

Rupiah Terkapar di Angka Rp16.936

Sektor mata uang juga tidak luput dari tekanan hebat. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah ke angka Rp16.936, atau turun 32,5 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ganda pada IHSG dan Rupiah ini menjadi sinyal waspada bagi ketahanan perekonomian domestik.

Para ahli memperingatkan potensi terjadinya inflasi impor (imported inflation) akibat menguatnya mata uang asing terhadap mata uang Garuda secara signifikan. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan segera mengambil langkah intervensi guna menstabilkan pasar keuangan agar tidak berdampak lebih luas pada sektor riil dan harga-harga kebutuhan pokok di masyarakat.

*(Drw)