Erupsi Gunung Lewotobi Masih Berlangsung, Ribuan Warga Flores Timur Mengungsi

Status Gunung Lewotobi Masih Awas, Warga Mengungsi
Kondisi pembangunan hunian sementara yang berada di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. BNPB)

Faktaambon.id, NASIONAL – Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung sejak letusan pertama pada 3 November 2024. Aktivitas vulkanik yang tinggi membuat status gunung ini tetap berada di Level IV atau Awas.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, Gunung Lewotobi telah mengalami 1.340 kali erupsi sepanjang tahun 2024 hingga Agustus 2025. Dari jumlah itu, delapan kali merupakan erupsi besar yang memaksa pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan status darurat masih berlaku.
“Sampai saat ini erupsi terus terjadi. Sehingga statusnya di sana (Kabupaten Flores Timur) tetap tanggap darurat,” ujarnya dalam rapat tingkat menteri yang dipimpin Menko PMK Pratikno, Kamis (21/8).

Ribuan Warga Mengungsi ke Hunian Sementara

Akibat erupsi Gunung Lewotobi, ribuan warga di kawasan rawan bencana terpaksa mengungsi. BNPB melaporkan 2.850 jiwa (850 KK) kini menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah. Sementara 2.178 jiwa (563 KK) memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat.

“Sebagian besar sudah ada di huntara, kehidupan masyarakatnya sudah mulai normal. Huntara ini dibangun di tempat aman, jauh dari kawasan gunung,” jelas Suharyanto.

Pembangunan huntara tahap ketiga sedang difinalisasi. Sebanyak 250 kepala keluarga di Pos Pengungsian Konga akan segera dipindahkan ke lokasi tersebut pada akhir Agustus.

Relokasi ke Hunian Tetap

Selain hunian sementara, pemerintah juga menyiapkan program relokasi permanen. Lokasi hunian tetap (huntap) dipusatkan di Desa Noboleto dengan akses jalan sepanjang delapan kilometer yang kini sedang dibangun.

“Mereka tidak selamanya tinggal di huntara, sedang proses dipindah ke tempat permanen atau hunian tetap,” tegas Suharyanto.

BNPB memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi berkat dukungan pemerintah, lembaga terkait, dan dunia usaha. “Logistik dan kebutuhan masyarakat, tidak ada masalah, dipenuhi pemerintah, lembaga dan dunia usaha semua terlibat di dalamnya,” lanjutnya.

Pemerintah juga memberi dua pilihan bagi warga: ikut relokasi resmi atau melakukan relokasi mandiri, dengan syarat lokasi baru harus aman dari ancaman erupsi Gunung Lewotobi.