Transparansi BI: Cadangan Devisa 148 Miliar USD Cukup Untuk Jaga Rupiah

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktaambon.id – Tekanan terhadap mata uang Garuda kian memuncak. Nilai tukar Rupiah tercatat menembus level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis siang (23/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah bertengger di posisi Rp17.310 per Dolar AS, melemah 0,74 persen dari perdagangan sebelumnya.

Angka ini menandai titik terendah baru sejak krisis moneter, yang dipicu oleh kombinasi ketidakpastian ekonomi global dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Level Rp17.000 menjadi ambang psikologis baru yang memberikan tantangan besar bagi biaya impor dan stabilitas harga barang di tingkat domestik.

Analisis BI: Tekanan Regional dan Ketidakpastian Global

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak sistemik global yang juga dialami oleh mata uang negara-negara di kawasan regional. “Tekanan terhadap Rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).

Destry menambahkan bahwa secara year-to-date, pelemahan Rupiah tercatat sebesar 3,54 persen. Meskipun angka nominalnya mencemaskan, pergerakan ini dinilai BI masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara tetangga akibat keperkasaan Dolar AS secara global.

Cadangan Devisa 148,2 Miliar USD Jadi Senjata Intervensi

Guna meredam fluktuasi yang terlalu tajam, Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk melakukan langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter. BI mengandalkan cadangan devisa yang masih solid sebesar 148,2 miliar Dolar AS (posisi akhir Maret 2026) untuk melakukan intervensi.

Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui:

  • Intervensi di pasar offshore (NDF).

  • Pasar domestik (spot dan DNDF).

  • Pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain intervensi langsung, BI melakukan penyesuaian suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market. Strategi ini diambil untuk memastikan aset domestik tetap menarik di mata investor global. “Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” tandas Destry.

*(Drw)