Faktaambon.id, EKONOMI – Indonesia kini sedang dihadapkan pada pilihan strategis yang akan menentukan posisinya dalam peta industri global. Pengembangan Logam Tanah Jarang bukan sekadar urusan sektor pertambangan biasa. Hal ini merupakan cerminan kemampuan negara untuk keluar dari pola lama sebagai pemasok bahan mentah ke pasar internasional.
Data dari survei geologis Amerika Serikat menunjukkan bahwa nilai komoditas ini ditentukan oleh penguasaan teknologi pengolahan. Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya melimpah yang hadir sebagai ikutan timah, nikel, dan limbah tailing. Namun, selama ini potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan nasional.
Tanpa langkah berani, kekayaan alam hanya akan menjadi simbol ketergantungan bangsa terhadap produk luar negeri. Negara lain memisahkan unsur bernilai tinggi dan menjualnya kembali ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat. Oleh karena itu, pembangunan industri strategis Indonesia berbasis hilirisasi harus segera diakselerasi secara serius.
Peran Strategis Perminas dan Penguasaan Teknologi
Proyek pengolahan Logam Tanah Jarang tidak boleh hanya dirancang untuk mengejar keuntungan finansial jangka pendek semata. Teknologinya memang mahal dan memiliki risiko tinggi, namun manfaat jangka panjangnya sangat luar biasa bagi pertahanan negara. Pemerintah melalui Perminas harus mengambil peran sebagai ujung tombak dalam pengolahan aset nasional ini.
Perminas sebaiknya tidak diperlakukan seperti BUMN tambang biasa yang sekadar mengejar profit harian. Tugas utamanya adalah membangun kemampuan pengolahan dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor produk jadi. Berikut adalah beberapa sektor yang sangat membutuhkan pasokan komoditas ini:
Kendaraan Listrik: Kebutuhan magnet dan motor listrik berperforma tinggi.
Energi Terbarukan: Komponen turbin angin dan teknologi ramah lingkungan.
Industri Pertahanan: Perangkat radar, rudal, dan komunikasi militer canggih.
Teknologi Komunikasi: Bahan baku komponen smartphone dan komputer modern.
Tantangan Hilirisasi Menuju Kedaulatan Masa Depan
Pengalaman hilirisasi nikel memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah dan pelaku usaha. Pembangunan smelter memang penting, tetapi tanpa produksi barang jadi bernilai tinggi, ketergantungan impor akan tetap terjadi. Tantangan dalam mengelola Logam Tanah Jarang jauh lebih kompleks karena melibatkan kepentingan geopolitik internasional.
Pemerintah harus berani mengambil risiko pada tahap awal riset dan pengembangan teknologi secara mandiri. Sektor industri strategis Indonesia tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar global yang kompetitif. Intervensi negara yang tegas diperlukan untuk mengamankan rantai pasok energi dan teknologi di masa depan.
Apabila Perminas diberi mandat yang jelas, lembaga ini dapat menjadi jembatan antara riset dan industri nasional. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah limbah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata dan berdaulat. Langkah ini akan membawa Indonesia menuju negara yang memegang kendali penuh atas kekayaan alamnya sendiri.
Segala agenda hilirisasi tidak boleh berhenti menjadi slogan politik tanpa eksekusi nyata di lapangan. Keberanian negara menentukan arah industri akan menentukan apakah kita tetap di pinggiran atau menjadi pemimpin rantai nilai global. Mari kita kawal transisi energi dan teknologi ini demi kedaulatan masa depan Indonesia.
(*Drw)









