Menuju Batas Psikologis Rp17.550, Analis Prediksi Tren Pelemahan Rupiah Berlanjut

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktaambon.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah sebesar 89 poin atau 0,51 persen pada perdagangan Selasa siang (12/5/2026). Mata uang Garuda merosot ke level Rp17.503 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp17.414.

Pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Penolakan AS terhadap proposal perdamaian Iran serta keterlibatan militer Uni Emirat Arab dalam menyerang kilang minyak di Pulau Lavan telah memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent dan memperkuat indeks dolar secara global.

Sentimen Internal: Pertumbuhan Ekonomi vs Realita PHK

Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 tercatat tinggi di angka 5,61 persen, hal ini tidak mampu menopang rupiah. Struktur pertumbuhan yang didominasi konsumsi masyarakat dan belanja negara dinilai minim dampak terhadap arus investasi asing.

Faktor internal lain yang menekan ekonomi domestik meliputi:

  • Badai PHK: Sebanyak 40 ribu buruh di sektor padat karya (tekstil, garmen, dan elektronik) kehilangan pekerjaan selama periode Januari-April 2026.

  • Sektor Informal: Dominasi angkatan kerja di sektor non-informal mencapai 87,74 juta orang, yang jauh lebih tinggi dibanding sektor formal.

  • Kekhawatiran Investasi: Pasar tengah menunggu rilis data Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan peringkat kelayakan investasi saham Indonesia.

Proyeksi Pekan Ini

Ibrahim memprediksi tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut namun tetap dalam kategori terkendali. Analis memproyeksikan pergerakan kurs tidak akan anjlok melampaui batas psikologis Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini, sembari menunggu stabilitas di pasar uang global dan kepastian data ekonomi terbaru.

*(Drw)