Transparansi Dana MBG: Mengapa Serapan 5% Mampu Cegah Kerugian Massal Peternak?

Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah: BGN Beri Klarifikasi
Implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan tak sesaui dengan laporan Badan Gizi Nasional (BGN)/net.

Faktaambon.id — Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak signifikan terhadap roda ekonomi di sektor pangan. Berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor peternakan berhasil mencetak rekor pertumbuhan sebesar 11,84%. Lonjakan ini dipicu oleh akumulasi tingginya permintaan daging ayam ras dan telur untuk momen Idulfitri yang beriringan dengan suplai program MBG.

Meskipun statistik menunjukkan angka yang menjanjikan, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, menyebut kontribusi serapan MBG saat ini baru berada di kisaran 5%. Namun, intervensi ini terbukti ampuh menjaga stabilitas harga ayam hidup di tingkat peternak pada kisaran Rp17.000 per kilogram, mencegah kejatuhan harga ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tantangan Biaya Produksi dan Surplus Stok

Dari sisi ketersediaan, stok nasional dipastikan aman menyusul surplus 560.000 kilogram pada akhir tahun lalu. Namun, para peternak kini dihantui oleh tantangan biaya pokok produksi yang membengkak, di antaranya:

  • Kenaikan Harga Pakan: Menekan margin keuntungan peternak rakyat.

  • Harga Anakan Ayam (DOC): Biaya bibit yang terus merangkak naik.

Desakan Putus Mata Rantai Tengkulak

Sorotan tajam GOPAN tertuju pada mekanisme distribusi bahan pangan MBG yang dinilai belum menyentuh peternak akar rumput. Sugeng menyayangkan bahwa keuntungan dari program ini lebih banyak dinikmati oleh tengkulak atau pedagang perantara.

Guna mengatasi hal tersebut, GOPAN mendesak pemerintah untuk:

  1. Institusionalisasi Tata Kelola: Mengintegrasikan pengadaan logistik melalui Koperasi Merah Putih.

  2. Peran BUMN: Mendorong penyerapan bahan baku langsung di bawah kendali BUMN.

  3. Keadilan Harga: Memutus rantai perantara agar negara dapat membeli produk pangan secara adil langsung dari peternak lokal.

*(Drw)