Daerah  

Menuju Kesiapsiagaan: TRC BPBD Kutai Barat Berhasil Kendalikan Api di Sekolaq Darat

Vila di Puncak Kebakaran Saat Disewa WNA
Kebakaran/(illustrasi/@pixabay)

Faktaambon.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadinya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, pada Selasa (21/4/2026). Insiden yang menghanguskan area lahan perkebunan milik warga ini menjadi salah satu rangkaian bencana yang mendominasi catatan kebencanaan di Tanah Air pada pertengahan pekan ini.

Berdasarkan data pemutakhiran BNPB hingga Rabu (22/4/2026) pagi, peristiwa tersebut secara spesifik terjadi di Kampung Sekolaq Joleq, wilayah Kecamatan Sekolaq Darat. BPBD Kabupaten Kutai Barat mengonfirmasi bahwa kobaran api telah melahap sekitar satu hektare kawasan perkebunan produktif sebelum berhasil dikendalikan oleh petugas.

Respons Cepat BPBD dan Pemadaman Titik Api

Merespons laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Kutai Barat segera diterjunkan ke lokasi dengan mengerahkan tiga unit armada mobil pemadam. Petugas gabungan bekerja keras melokalisasi titik api agar kebakaran tidak menjalar lebih jauh ke area permukiman maupun vegetasi hutan lindung di sekitarnya.

Berkat kesigapan di lapangan, api berhasil dipadamkan sepenuhnya dan situasi dinyatakan aman terkendali. Namun, BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak lengah, mengingat sebagian besar wilayah Indonesia kini tengah memasuki masa pancaroba yang rentan memicu potensi kebakaran lahan maupun cuaca ekstrem.

Peringatan Cuaca Ekstrem dan Tas Siaga Bencana

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem untuk periode 22 hingga 24 April 2026. Menghadapi situasi ini, BNPB mengimbau warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi air minum, obat-obatan, dokumen penting, dan perlengkapan darurat lainnya.

Pemerintah daerah juga diinstruksikan untuk mematangkan rencana kedaruratan guna memastikan personel selalu siap merespons bencana dengan cepat. Kewaspadaan harian terhadap perubahan cuaca menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko kerugian materiil maupun korban jiwa selama masa peralihan musim ini.

*(Drw)